YOGYAKARTA, crnnews.id – Perkembangan aktivitas Gunung Merapi hari ini, Minggu 13 September 2026, kembali menjadi perhatian masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan lereng gunung dan wilayah yang berada di sekitar aliran sungai berhulu di Merapi.
Gunung Merapi yang berada di wilayah perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng) hingga hari ini masih berstatus Siaga Level III.
Berdasarkan informasi pemantauan terbaru, kondisi Gunung Merapi belum menunjukkan tanda-tanda aktivitas vulkanik yang menonjol. Puncak gunung terpantau tertutup kabut sehingga kondisi visual kawah tidak dapat diamati secara maksimal.
Sementara itu, asap kawah dilaporkan nihil. Kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi juga terpantau mendung.
Suhu udara di kawasan Gunung Merapi berada pada kisaran 18,4 hingga 19,3 derajat Celsius, sedangkan kelembapan udara tercatat sekitar 81,2 hingga 85 persen.
Baca Juga : Kasus Keracunan MBG di Pati Capai 424 Korban, Polisi Periksa Saksi dan Telusuri Penyebab
Aktivitas Kegempaan Gunung Merapi Hari Ini
Selain pengamatan visual dan kondisi meteorologi, aktivitas Gunung Merapi juga dipantau melalui perkembangan kegempaan.
Data yang dilansir dari laman MAGMA Indonesia/BPPTKG menunjukkan adanya perubahan pada sejumlah jenis gempa yang tercatat di Gunung Merapi.
Untuk gempa guguran, terjadi penurunan dibandingkan data sebelumnya. Jumlah gempa guguran yang sebelumnya tercatat sebanyak 18 kali, kini menjadi 11 kali.
Penurunan tersebut menjadi salah satu bagian dari dinamika aktivitas Gunung Merapi yang terus dipantau oleh petugas. Gempa guguran sendiri berkaitan dengan aktivitas material di tubuh atau lereng gunung yang mengalami pergerakan atau runtuhan.
Baca Juga : “Diduga Gara-gara Uang Arisan Rp30 Ribu, Warga Desa Beluk Kenek Sumenep Dianiaya hingga Babak Belur”
Berbeda dengan gempa guguran, jumlah gempa hybrid Gunung Merapi mengalami sedikit peningkatan.
Sebelumnya, gempa hybrid tercatat sebanyak 19 kali. Pada pemantauan terbaru, jumlah tersebut meningkat menjadi 20 kali.
Sementara itu, gempa vulkanik dangkal masih tercatat sebanyak 1 kali. Angka tersebut belum mengalami perubahan dibandingkan data sebelumnya.
Perubahan jumlah kegempaan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam pemantauan perkembangan aktivitas Gunung Merapi. Pengamatan dilakukan secara berkelanjutan untuk mengetahui perubahan kondisi gunung api tersebut.
Status Gunung Merapi Masih Siaga Level III
Hingga informasi terbaru ini diterbitkan, Gunung Merapi masih berstatus Siaga Level III.
Baca Juga : Dugaan Keracunan Makan Bergizi Gratis di Sidoarjo Meluas, 566 Orang Mengalami Keluhan Kesehatan.
Status tersebut menjadi bagian penting yang perlu diketahui masyarakat karena aktivitas gunung api dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat di kawasan sekitar Merapi diharapkan tetap memperhatikan perkembangan informasi resmi dari instansi terkait.
Masyarakat juga diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai aktivitas Gunung Merapi. Informasi mengenai erupsi, awan panas, guguran lava, maupun perubahan status gunung sebaiknya diperoleh dari sumber resmi.
Gunung Merapi memiliki ketinggian sekitar 2.968 meter di atas permukaan laut (mdpl). Gunung tersebut merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia yang aktivitas vulkaniknya terus dipantau.
Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi Sebagai gunung api aktif, Merapi masih berpotensi menunjukkan berbagai bentuk aktivitas vulkanik. Aktivitas tersebut antara lain berupa guguran lava pijar, awan panas, hingga lontaran material vulkanik.
Baca Juga : Prabowo Targetkan Penutupan 700 BUMN hingga Akhir 2026, Pemerintah Dorong Efisiensi dan Penghematan Anggaran
Guguran lava pijar maupun awan panas guguran dapat bergerak mengikuti kondisi medan dan alur sungai yang berada di kawasan lereng Gunung Merapi.
Sejumlah sungai yang menjadi jalur aliran antara lain Sungai Bedog, Sungai Bebeng, Sungai Boyong, Sungai Krasak, Sungai Gendol, dan Sungai Woro.
Kawasan di sekitar sungai-sungai tersebut menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian, terutama ketika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi.
Selain potensi aliran awan panas dan guguran lava, aktivitas Gunung Merapi juga dapat disertai lontaran material vulkanik. Berdasarkan informasi dalam pemantauan yang menjadi rujukan artikel ini, lontaran material vulkanik dapat mencapai radius sekitar 3 kilometer dari puncak Gunung Merapi.
Baca Juga : Massa Aksi Kembali Padati Gedung DPR Usai AMPB Membubarkan Diri, Polisi Perketat Pengamanan
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Kondisi visual Gunung Merapi yang tertutup kabut pada hari ini membuat pengamatan secara kasatmata terhadap kawasan puncak menjadi terbatas. Meski demikian, pemantauan aktivitas gunung api tetap dilakukan melalui berbagai parameter, termasuk kegempaan dan pengamatan kondisi gunung.
Masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana di sekitar Gunung Merapi diharapkan tetap tenang dan tidak panik. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Gunung Merapi merupakan gunung api aktif yang aktivitasnya dapat mengalami perubahan.
Warga juga perlu mengikuti ketentuan dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh pihak berwenang apabila terdapat perkembangan terbaru mengenai aktivitas Gunung Merapi.
Dengan status Siaga Level III, perkembangan aktivitas Gunung Merapi masih menjadi perhatian. Data kegempaan dan kondisi visual akan terus menjadi bagian dari pemantauan untuk mengetahui perubahan aktivitas gunung api tersebut.
Informasi terbaru Gunung Merapi hari ini, Minggu 13 September 2026, menunjukkan kondisi puncak masih tertutup kabut, asap kawah nihil, cuaca mendung, serta adanya perubahan pada beberapa parameter kegempaan.
Gunung Merapi hari ini masih berstatus Siaga Level III, sehingga masyarakat di sekitar kawasan Merapi diharapkan tetap waspada, mengikuti informasi resmi, dan tidak melakukan aktivitas di kawasan yang telah ditetapkan sebagai wilayah rawan bahaya. (Red)















